Transformasi pendidikan melalui penerapan Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk bersikap lebih fleksibel dan inovatif dalam proses pembelajaran, termasuk dalam konteks madrasah ibtidaiyah. Guru Akidah Akhlak di MIN 1 Gorontalo Utara menghadapi tantangan ganda, yakni memenuhi tuntutan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi dan inovasi pembelajaran, sekaligus menjalankan tanggung jawab moral-spiritual dalam pembinaan akhlak peserta didik. Kondisi ini berpotensi menimbulkan Role Strain, yaitu ketegangan peran akibat ketidakseimbangan antara tuntutan profesional, administratif, dan ekspektasi sosial-keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk Role Strain yang dialami guru Akidah Akhlak serta menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi munculnya ketegangan peran tersebut dalam penerapan nilai-nilai keagamaan pada Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, berlokasi di MIN 1 Gorontalo Utara. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengalami berbagai bentuk Role Strain, seperti role overload, role conflict, dan tekanan peran ganda antara fungsi pedagogis dan pembinaan moral-spiritual. Ketegangan peran dipengaruhi oleh tuntutan administratif Kurikulum Merdeka, budaya religius madrasah, keterbatasan sumber daya, serta ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pembinaan akhlak siswa. Temuan ini menegaskan bahwa Role Strain pada guru madrasah memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan sekolah umum. Penelitian ini merekomendasikan perlunya dukungan kelembagaan, pengelolaan beban kerja yang lebih proporsional, serta strategi integratif dalam penerapan nilai-nilai keagamaan agar peran guru dapat dijalankan secara optimal dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025