Latar belakang: Anak dengan autisme umumnya mengalami hambatan dalam menjalin interaksi sosial. Terapi bermain LEGO merupakan salah satu bentuk aktivitas bermain yang menekankan kerja sama, saling membantu, dan dukungan antarindividu. Penerapan terapi bermain LEGO pada anak autisme diharapkan dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi bermain LEGO terhadap interaksi sosial anak dengan autisme di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Pangkalpinang Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi-experimental) dengan pendekatan pre-test dan post-test group design. Kriteria inklusi meliputi anak usia 7–12 tahun yang bersekolah di SLB, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, mampu berkomunikasi, serta memiliki diagnosis autisme. Pengambilan sampel menggunakan tekhnik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 10 anak. Pengukuran interaksi sosial dilakukan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain LEGO. Analisis data menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil analisis menggunakan uji paired t-test pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang menandakan adanya perbedaan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi bermain LEGO berpengaruh terhadap peningkatan interaksi sosial pada anak autisme yang mengalami hambatan interaksi sosial. Kesimpulan: Terapi bermain LEGO memberikan pengaruh terhadap peningkatan interaksi sosial anak autisme di SLB Kota Pangkalpinang. Dengan demikian, terapi bermain LEGO direkomendasikan sebagai salah satu intervensi yang efektif untuk anak SLB yang mengalami hambatan interaksi sosial.
Copyrights © 2025