Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan global utama dengan prevalensi tinggi di Indonesia mencapai 34,1% (Riskesdas, 2018). Salah satu mekanisme patogenetik penting dalam hipertensi adalah stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas (reactive oxygen species, ROS) dan kapasitas sistem antioksidan tubuh. Kondisi ini mengakibatkan disfungsi endotel, penurunan bioavailabilitas oksida nitrat (NO), serta peningkatan resistensi vaskular. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis terhadap publikasi ilmiah yang diperoleh dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Seleksi literatur mengikuti pedoman PRISMA dengan kriteria inklusi artikel peer-reviewed yang membahas hubungan antara antioksidan, stres oksidatif, dan tekanan darah. Pembahasan: Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vitamin C, vitamin E, polifenol, flavonoid, dan koenzim Q10 berperan menetralisir ROS, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, CAT, GPx), serta memperbaiki fungsi endotel. Meta-analisis melaporkan penurunan tekanan darah sistolik rata-rata 3–5 mmHg pada individu dengan peningkatan asupan antioksidan baik melalui diet maupun suplemen. Mekanisme utama meliputi peningkatan aktivasi jalur Nrf2, penghambatan enzim NADPH oksidase, serta peningkatan ketersediaan NO. Pola makan berbasis whole food seperti diet DASH dan Mediterania menunjukkan efek yang lebih konsisten dibanding suplementasi tunggal. Simpulan: Asupan antioksidan yang adekuat berpotensi menurunkan stres oksidatif dan memperbaiki fungsi vaskular pada hipertensi. Pendekatan nonfarmakologis melalui pola makan kaya antioksidan dapat menjadi strategi efektif dan berbiaya rendah untuk pencegahan serta pengendalian hipertensi di populasi umum.
Copyrights © 2026