Artikel ini menjawab kecenderungan historiografi intelektual Indonesia yang masih bersifat tekstual, maskulin, dan Jawa-sentris dengan mengangkat Maria Walanda Maramis sebagai intelektual perempuan non-elitis di Minahasa awal abad ke-20. Berangkat dari kritik terhadap definisi intelektualitas yang membatasi produksi gagasan pada teks tertulis dan arena politik formal, artikel ini menawarkan pembacaan alternatif terhadap intelektualitas yang beroperasi melalui praktik sosial, organisasi komunitas, dan artikulasi nilai-nilai moral. Dengan menggunakan pendekatan sejarah intelektual yang diperluas dan perspektif gender, artikel ini menunjukkan bahwa Maria Walanda Maramis memproduksi gagasan sosial melalui aktivitas organisasi, pendidikan perempuan, serta pembentukan wacana keibuan dan moralitas sosial. Intelektualitas Maria tidak diwujudkan dalam bentuk teks teoritis, melainkan dalam praktik sosial yang berkelanjutan dan berdampak luas di tingkat komunitas. Artikel ini berargumen bahwa pengakuan terhadap bentuk intelektualitas non-elitis tidak hanya memperkaya pemahaman tentang sejarah intelektual Indonesia kolonial, tetapi juga menantang batasan konseptual mengenai siapa yang dapat disebut sebagai intelektual.
Copyrights © 2026