Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran penting perempuan penenun di Silungkang selama krisis ekonomi 1997–1998 yang mengguncang sektor formal dan kehidupan masyarakat lokal, sehingga menuntut mereka untuk mengambil peran sentral dalam menopang ekonomi keluarga dan menjaga keberlanjutan tradisi tenun songket. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk adaptasi, strategi bertahan, serta perubahan peran perempuan penenun dalam menghadapi tekanan ekonomi pada masa krisis tersebut. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kualitatif melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan data yang diperoleh dari studi pustaka, arsip, dan wawancara pelaku sejarah serta penenun lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan penenun mampu beradaptasi melalui penyederhanaan motif, penggunaan benang sintetis, peralihan pada sistem produksi berbasis pesanan, serta pembentukan kelompok kerja informal seperti “arisan benang”. Selain itu, mereka memperluas jaringan pemasaran hingga luar daerah dan memanfaatkan dukungan diaspora Minangkabau. Temuan ini menegaskan bahwa perempuan penenun tidak hanya berhasil mempertahankan ekonomi keluarga, tetapi juga memainkan peran strategis sebagai penjaga identitas budaya Silungkang, sekaligus membuktikan bahwa tradisi menenun menjadi simbol ketahanan dan solidaritas komunitas di tengah krisis nasional.
Copyrights © 2025