Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan konsep antara Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Bahasa Indonesia serta menanamkannya terhadap praktik pekerjaan sosial. Bahasa Indonesia bersifat linier dan fonologis dengan pola gramatika Subjek–Predikat–Objek–Keterangan (SPOK), sedangkan BISINDO bersifat visual dan spasial yang menekan simultanitas gerak, ekspresi wajah, dan ruang. Perbedaan sistem representasi makna ini sering menimbulkan kesulitan komunikasi antara pekerja sosial dan klien Tuli. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara terhadap pengguna bahasa isyarat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan struktur dan logika bahasa menyebabkan pengguna BISINDO mengalami hambatan dalam memahami Bahasa Indonesia, terutama dalam konteks akademik dan sosial. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara penutur dengar dan Tuli melalui penyediaan juru bahasa isyarat dan adaptasi metode pembelajaran bahasa. Pemahaman terhadap kedua sistem linguistik ini penting untuk membangun komunikasi yang inklusif, setara, dan efektif dalam konteks pekerjaan sosial.
Copyrights © 2026