Pembangunan pariwisata kepulangan segi tima emas menghadapi berbagai tantangan mulai dari aksesbilitas, penyediaan air bersih tata Kelola, termasuk kapasitas sumber daya manusia. Berdasarkan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan memperlihatkan bagaimana kebijakan tata kelola pariwisata di Kepulauan Segi Tiga Emas Sumenep meliputi Gili Iyang, Gili Labak, dan Gili Genting dapat diperkuat melalui pendekatan Service-Dominant Logic (SDL). Menggunakan metode kualitatif dengan wawancara semi-terstruktur, studi ini menggali pengalaman berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah, pelaku usaha, hingga komunitas lokal dan wisatawan. Hasilnya menunjukkan bahwa bentukbentuk kolaborasi sudah mulai muncul, tetapi masih berjalan secara terputus-putus, tidak mengikuti standar yang jelas, dan belum ditopang oleh institusi yang cukup mapan. Indikasi value co-creation memang terlihat melalui peran Pokdarwis dan masyarakat lokal dalam mengintegrasikan berbagai sumber daya, namun upaya tersebut belum menghasilkan layanan yang konsisten maupun mekanisme koordinasi yang terpadu. Penelitian ini juga menemukan lima kendala utama, yaitu hambatan aksesibilitas, keterbatasan infrastruktur dasar, lemahnya struktur tata kelola, rendahnya kapasitas SDM lokal, serta tekanan lingkungan yang semakin meningkat. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan tiga strategi penguatan berbasis SDL: membangun sistem co-creation yang terintegrasi, memperjelas pengaturan kelembagaan untuk mendukung kolaborasi, serta meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penguatan peran Pokdarwis. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan bahwa tata kelola pariwisata kepulauan hanya dapat berkembang secara berkelanjutan apabila integrasi kelembagaan, kualitas layanan, dan kerja sama multipihak dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan.
Copyrights © 2025