Bahasa Jawa merupakan bahasa nusantara yang memiliki penutur terbesar di Indonesia. Bahasa Jawa menyimpan banyak masalah yang menarik untuk diteliti. Salah satu hal yang dapat dilihat adalah masalah strukturnya, seperti penggunaan verba dwitransitif dalam kalimat bahasa Jawa dialek Malang. Bentuk verba dwitransitif bahasa Jawa adalah polimorfemis, sehingga verba tersebut mempunyai penanda morfologis. Sama halnya dengan bahasa Jawa dialek Malang, verba dalam dialek ini juga memiliki penanda morfologis yang menunjukkan bentuk, fungsi dan perannya dalam kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berupa data lisan bahasa ngoko dialek Malang dari siaran berita Batu TV dan data tertulis dari buku Gladi Basa Jawa Kanggo SD/MI. Kedua data dipilih berdasarkan kalimat yang mengandung verba dwitransitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba dwitransitif bahasa Jawa dialek Malang dapat dikategorikan menjadi: 1) verba bentuk N-D yang meliputi m-D, n-D, ng-D, dan ny-D; 2) verba bentuk N-D-na yang meliputi m-D-na, n-D-na, ng-D-na, dan ny-D-na; dan 3) verba bentuk N-D-i yang meliputi m-D-i, n-D-i, ng-D-i, dan ny-D-i. Tetapi, tidak semua verba polimorfemis dalam bahasa Jawa dialek Malang merupakan verba dwitransitif dan untuk membedakannya dapat dilihat dengan bentuk verba dasarnya. Verba dwitransitif bahasa Jawa dialek Malang di sisi lain juga mengikuti pola umum, yaitu pola S-P-O-Pel dan S-P-Pel-O yang menunjukkan fungsi dan peran masing-masing kelas kata dalam kalimat, terutama peran argumen yang ditempati oleh fungsi predikat (P) dan argumen pendampingnya yang ditempati oleh fungsi subjek (S), objek (O), dan pelengkap (Pel). Kedua fungsi objek (O) dan pelengkap (Pel) inilah yang kemudian memberikan peran yang mutlak dan wajib ada setelah verba dwitransitif dalam kalimat.
Copyrights © 2025