Olahraga prestasi menuntut beban latihan yang tinggi sehingga diperlukan strategi pemulihan yang tepat agar atlet terhindar dari kelelahan berlebih dan penurunan performa. Denyut nadi merupakan indikator fisiologis yang dapat digunakan untuk menilai kecepatan pemulihan sistem kardiovaskular setelah latihan. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengaruh Cryotherapy dan Recovery Aktif terhadap penurunan denyut nadi atlet dayung di Makassar setelah latihan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif eksperimen dengan desain two group pre-test and post-test. Sampel terdiri dari 16 atlet dayung yang dibagi menjadi dua kelompok secara merata, yaitu 8 atlet menerima Cryotherapy dan 8 atlet menerima Recovery Aktif. Denyut nadi diukur menggunakan Pulse Oximeter sebelum dan sesudah latihan circuit training (9 gerakan, 1 menit per gerakan, jeda 30 detik, 3 set, istirahat 5 menit antar set). Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji homogenitas Levene, serta uji-t. Hasil menunjukkan kedua metode efektif menurunkan denyut nadi secara signifikan (Cryotherapy p=0,001; Recovery Aktif p=0,000). Secara deskriptif, Cryotherapy menurunkan denyut nadi lebih besar (mean difference 98,38 bpm) dibanding Recovery Aktif (86,87 bpm) dengan selisih 11,51 bpm. Disimpulkan bahwa Cryotherapy dan Recovery Aktif sama-sama efektif, namun Cryotherapy lebih unggul dalam mempercepat pemulihan denyut nadi pasca latihan.
Copyrights © 2026