Artikel ini mengkaji evolusi konsep pembangunan masyarakat Iran modern melalui tinjauan historis transformasi politik sejak era pasca-Safawiyah hingga tegaknya Republik Islam. Menggunakan pendekatan historis dan studi literatur, penelitian ini menyoroti pergeseran paradigma mengenai bagaimana sebuah peradaban modern dibangun dan dipertahankan di Iran. Konstruksi identitas sosio-politik yang diwariskan oleh Dinasti Safawiyah sempat mengalami pergeseran ekstrem pada era monarki pra-revolusi, di mana negara memaksakan proyek modernisasi sekuler yang berkiblat ke Barat. Agresivitas sekularisasi ini memicu kecemasan kolektif di kalangan masyarakat religius yang mengkhawatirkan hilangnya identitas Islam, serupa dengan model sekularisme Turki. Respons terhadap krisis identitas tersebut melahirkan redefinisi atas konsep "Iran Modern", yang mencapai puncaknya pada Revolusi Islam 1979 di bawah kepemimpinan Imam Ayatullah Ruhullah Khomeini. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat Iran modern pasca-revolusi tidak menolak modernitas instrumenal, melainkan merekonstruksinya melalui doktrin Wilayat al-Faqih (kepemimpinan fukaha). Dalam payung sistem pemerintahan Imamah Syi'ah ini, konsep pembangunan negara diformat ulang untuk menyintesiskan struktur republik yang demokratis dengan otoritas teologis tertinggi di tangan ulama. Kesimpulannya, wujud masyarakat Iran modern saat ini adalah hasil dialektika perlawanan terhadap sekularisasi global, yang menghasilkan model pembangunan negara alternatif dengan menjadikan nilai-nilai spiritualitas Syi'ah sebagai fondasi utama kemajuannya
Copyrights © 2025