Artikel ini membahas pameran KONGSI: Akulturasi Budaya Tionghoa di Nusantara yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia dengan menggunakan konsep sejarah diplomasi sebagai kerangka analisis. Kajian ini berangkat dari pemahaman bahwa diplomasi tidak hanya terjadi melalui hubungan resmi antarnegara, tetapi juga terbentuk melalui interaksi sosial jangka panjang, perpindahan penduduk, dan pertukaran budaya. Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis bagaimana artefak dan narasi kuratorial dalam pameran tersebut menggambarkan hubungan historis antara Tiongkok dan Nusantara, serta bagaimana akulturasi budaya Tionghoa ditempatkan dalam proses pembentukan identitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menganalisis segmen pameran, artefak, dan teks kuratorial. Hasil analisis menunjukkan bahwa pameran menampilkan akulturasi budaya sebagai proses sejarah yang berlangsung terus-menerus dan saling menguatkan, yang dapat dipahami sebagai kekuatan mendasar dalam sejarah diplomasi. Namun, kajian ini juga menemukan bahwa narasi pameran lebih menekankan keharmonisan budaya dan belum banyak membahas ketegangan atau konflik sejarah yang menyertainya. Artikel ini menyimpulkan bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer sejarah, tetapi juga sebagai tempat pembentukan narasi diplomasi budaya kontemporer.
Copyrights © 2026