Wabah Ebola di Afrika Barat pada periode 2015–2016 merupakan krisis kesehatan transnasional yang berdampak luas pada stabilitas regional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis World Health Organization (WHO) dalam kerangka diplomasi kesehatan global untuk menanggulangi epidemi tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, penelitian ini mengeksplorasi kompleksitas koordinasi kebijakan dan interaksi antar-aktor selama krisis berlangsung. Data dikumpulkan melalui teknik studi kepustakaan dari dokumen resmi WHO, laporan PBB, dan literatur akademik bereputasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa WHO berfungsi sebagai aktor diplomatik sentral melalui penetapan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), yang mengatalisasi mobilisasi sumber daya internasional dan inovasi medis. Meskipun menghadapi kritik atas respons awal, WHO berhasil mengintegrasikan pendekatan sosial-budaya lokal dan reformasi institusional melalui WHO Health Emergencies Programme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas diplomasi kesehatan global sangat bergantung pada sinergi antara kapasitas teknis, sensitivitas budaya, dan dukungan finansial yang berkelanjutan. Rekomendasi utama menekankan perlunya penguatan sistem surveilans terintegrasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui Tim Tanggap Cepat atau Rapid Response Team (RRT) multidisiplin untuk menghadapi ancaman kesehatan di masa depan.
Copyrights © 2026