Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah
Vol 2, No 2 (2016)

PROTES SOSIAL PETANI INDRAMAYU MASA PENJAJAHAN JEPANG (1942-1945)

Wahyu Iryana (Program Doktor Konsentrasi Ilmu Sejarah FIB UNPAD)



Article Info

Publish Date
30 Dec 2016

Abstract

Abstrak: Lahirnya peristiwa protes sosial petani Indramayu terhadap kewajiban serah padi pada masa penjajahan Jepang tahun 1944. Berawal dari amanat Syuuchokan yang diberlakukan pada tanggal 1 April 2603 sampai 31 Maret 2604 selama satu tahun, hal ini sesuai data yang tertera pada surat kabar Tjahaja, Rebo 12 Itigatu 2604, No.11 Tahoen ke III. Selain hasil bumi sebanyak 200 gram untuk makan seorang sehari dan 20 kg untuk bibit per hektar, semua hasil bumi harus diserahkan kepada Jepang. Hal ini telah menimbulkan inisiatif petani Indramayu untuk melakukan tindakan-tindakan preventif menolak adanya kewajiban serah padi, dan pada akhirnya mengakibatkan pemberontakan petani Indramayu, yang merembet pada terbunuhnya Camat Sindang. Keadaan Indramayu yang kacau mengakibatkan Indramayu tidak mengeluarkan orang untuk Romusha, Heiho, dan PETA yang berimbas pada pemecatan, pemindahan dan pergantian pangreh praja termasuk Bupati Indramayu R.T.A.A. Mohamad Soediono digantikan oleh Dokter Muhammad Moerdjani tanggal 8 Agustus 1944 untuk memulihkan ketertiban di Indramayu. Menurut Sartono Kartodirdjo sejarah merupan hubungan kausalitas yang berangkat pada suatu gejolak sosial dalam masyarakat yang menimbulkan keresahan dan perubahan sosial. Dalam kasus protes sosial petani Indramayu yang dipicu oleh faktor nilai, ekonomi, politik, kultur sosial dalam bentuk struktural sosial di Indramayu. Penulis berpendapat bahwa kesemuanya itu menciptakan kondisi yang harus ada (Neccesery Condition) bagi terjadinya gejolak dan suatu yang pantas untuk menimbulkan ledakan peristiwa (Sufficient condition). (Sartono Kartodirdjo, 1997:75). Pelaku sejarah perlawanan menentang penjajahan Jepang umumnya terdiri dari ulama desa seperti Kiai Sualaiman, Kiai Srengseng, Haji Akhsan, Kiai Abdul Ghani (Kaplongan), Kiai Madrais (Cidempet), Kiai Muktar (Kertasmaya), Tasiah (Pranggong), Haji Dulkarim (Panyindangan Kidul), Sura (Sindang) dan Karsina ( Slijeg). Kendati pun mereka berasal dari desa terpencil, namun mereka mampu memiliki rasa kebangsaan nasional yang terandalkan. Kenyataan sejarah yang demikian itu, memberikan gambaran bahwa penindasan penjajahan telah dirasakan beratnya oleh segenap bangsa Indonesia, dan penduduk hingga ke pelosok desa. Kesamaan sejarah yang dialaminya inilah, menjadi bahan dasar bila terjadi gerakan perlawanan terhadap Jepang, memperoleh dukungan dari rakyat walaupun di desa ataupun di daerah-daerah lain baik dipegunungan ataupun daerah pantai. Sekalipun hampir tak pernah ditulis dalam buku resmi sejarah, petani Indramayu sudah menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa.

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

Candrasangkala

Publisher

Subject

Economics, Econometrics & Finance

Description

Journal of History Education Department in Faculty of Teacher Training and Education named Candrasangkala. In Indonesia Candrasangkala is the year of Saka as one of the influence of Hinduism. As a journal name, Candrasangkala is unique and closely related to history in terms of temporal aspects. ...