Penelitian ini menganalisis International Hijri Calendar Unity Congress 2016 di Istanbul sebagai studi kasus dalam diplomasi ilmiah dan administrasi publik transnasional. Latar belakang penelitian ini adalah fragmentasi sosial-keagamaan di dunia Islam akibat ketiadaan kalender Hijriah yang seragam. Kongres yang diinisiasi oleh Kepresidenan Urusan Agama Turki berfungsi tidak hanya sebagai forum astronomi, tetapi juga sebagai strategi politik untuk memperkuat posisi Turki dalam kepemimpinan dunia Islam. Penelitian kualitatif ini menggunakan kerangka diplomasi ilmiah dan teori administrasi publik untuk mengidentifikasi bagaimana sains dimanfaatkan dalam membangun konsensus keagamaan serta mencapai tujuan kebijakan luar negeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kongres tersebut berhasil mengubah diskusi yang berkepanjangan menjadi keputusan konkret melalui inovasi prosedural berupa pemungutan suara yang menghasilkan resolusi Kalender Hijriah Global Tunggal. Meskipun demikian, penerapannya menghadapi hambatan politik dan kelembagaan, termasuk penolakan dari otoritas keagamaan tertentu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kongres tersebut merupakan keberhasilan parsial yang menegaskan kapasitas Turki dalam membangun soft power berbasis agama sekaligus menunjukkan batasan konsensus teknokratis dalam tata kelola dunia Islam.
Copyrights © 2025