Penyandang disabilitas merupakan individu dengan keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik jangka panjang yang menghadapi berbagai hambatan dalam berpartisipasi secara penuh dan efektif di masyarakat. Salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah minimnya akses terhadap fasilitas pendidikan yang inklusif dan ramah disabilitas. Di Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah, keterbatasan infrastruktur dan kurangnya inovasi dalam penyediaan pendidikan bagi penyandang disabilitas menjadi persoalan serius yang berdampak langsung pada pengembangan potensi mereka. Berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2022, tercatat 278 penyandang disabilitas di Kabupaten Banggai Laut dengan berbagai kategori disabilitas. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat, sementara fasilitas pendidikan yang mendukung tetap minim. Sebagai solusi terhadap permasalahan tersebut, penelitian ini mengusulkan perancangan Pusat Edukasi dan Kreativitas Penyandang Disabilitas dengan penerapan konsep Arsitektur Neurosains. Konsep ini mengintegrasikan prinsip-prinsip ilmu saraf ke dalam desain arsitektur untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, adaptif, dan mendukung proses kognitif serta emosional penyandang disabilitas. Perancangan difokuskan pada aspek ruang personal dan sosial, pengendalian distraksi, pemilihan material yang aman, ketenangan akustik, serta penggunaan warna dan tekstur yang mampu meningkatkan kenyamanan fisik dan mental. Diharapkan, pusat edukasi ini dapat menjadi wadah pengembangan diri sekaligus simbol inklusivitas yang nyata di Kabupaten Banggai Laut.
Copyrights © 2025