Anak diaspora Indonesia di Penang, Malaysia menghadapi kesenjangan pendidikan dasar dan jarak kultural karena keterbatasan akses terhadap sekolah yang selaras dengan kurikulum Indonesia. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Sanggar Bimbingan AMI Penang pada 25 Juni 2024 selama dua jam (10.00–12.00 waktu setempat) dengan melibatkan 25 anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Intervensi mengintegrasikan pembelajaran berbasis budaya melalui cerita rakyat Indonesia (misalnya Sangkuriang dan Malin Kundang) untuk memperkuat literasi–numerasi sekaligus menanamkan nilai moral dan identitas kebangsaan, serta promosi minat baca melalui penyediaan fasilitas Reading Box Area berisi buku, flashcard, dan katalog bacaan bertema budaya. Evaluasi dilakukan melalui tes literasi–numerasi dan observasi pemahaman budaya. Hasil menunjukkan peningkatan keterlibatan belajar dan kesadaran budaya, namun capaian kuantitatif belum sepenuhnya memenuhi target: sekitar 60% peserta mencapai skor minimal 75 pada tes literasi, dan 30% menunjukkan peningkatan frekuensi membaca. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pendidikan berbasis budaya efektif sebagai strategi awal, tetapi memerlukan adaptasi bahasa, penguatan kemitraan, dan aktivitas berkelanjutan untuk menjaga partisipasi.
Copyrights © 2026