Isu kesetaraan gender masih menjadi persoalan yang relevan untuk dikaji, khususnya dalam konteks masyarakat yang memiliki sistem adat patriarkal yang kuat seperti di Bali. Dalam beberapa dekade terakhir, perempuan Bali menunjukkan peningkatan partisipasi di bidang pendidikan, ekonomi, dan ruang publik sebagai bagian dari proses emansipasi. Namun demikian, kemajuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan dalam struktur adat yang masih berlandaskan sistem patrilineal serta konsep purusha dan pradana, yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketimpangan gender yang dialami perempuan Bali dalam struktur adat patriarki serta mengkaji fenomena tersebut melalui perspektif feminisme. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan mengkaji berbagai buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian yang relevan. Data dianalisis menggunakan analisis konten dan analisis deskriptif untuk memahami pola ketimpangan gender dan relasi kuasa yang bekerja dalam masyarakat Bali. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun perempuan Bali telah berdaya di ranah modern, sistem adat patriarki masih membatasi akses perempuan terhadap hak waris, pengambilan keputusan adat, dan pengakuan atas kontribusi ekonomi, khususnya kerja domestik. Melalui perspektif feminisme liberal, radikal, dan Marxis, penelitian ini menemukan bahwa ketimpangan gender di Bali bersifat struktural dan dilegitimasi oleh nilai budaya serta sistem sosial yang mengakar. Meskipun demikian, kajian ini juga menunjukkan adanya praktik resistensi dan negosiasi yang dilakukan perempuan Bali melalui kesadaran kritis, aktivisme, dan solidaritas sosial. Dengan demikian, emansipasi perempuan Bali merupakan proses dinamis yang terus berlangsung di tengah tarik-menarik antara modernitas dan kekuatan adat patriarki.
Copyrights © 2026