Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam. Letak wilayah di sekitar garis khatulistiwa dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi menjadikan daerah tersebut rentan terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Meskipun demikian, aktivitas ekonomi masyarakat terus berkembang, termasuk di daerah-daerah yang rawan bencana alam. Salah satu bentuk usaha masyarakat yang sedang tren saat ini adalah cafe, resto, dan coffee shop. Kawasan Bukit Gado-Gado memiliki panorama pantai menawan sekaligus berada di lereng bukit dengan aksesibilitas yang bagus dan pengujung yang ramai menjadikan kawasan ini diperuntukan untuk kawasan wisata. Dengan kesenjangan fungsi kawasan sebagai wisata dan resiko bahaya bencana menjadikan penelitian ini menarik untuk diteliti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan lokasi penelitian di kelurahan Bukit Gado-Gado yaitu jalan menuju kawasan wisata Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, pengumpulan dokumen. Serta, teknik analisis data dengan cara kodifikasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pemilik cafe melihat lokasi lereng bukit sebagai ruang yang memiliki nilai estetika, ekonomi, dan simbolis. Sehingga banyak masyarakat sebagai pelaku usaha membangun cafe di kawasan rawan bencana karena strategis secara ekonomi. Kepemilikan lahan di kawasan Bukit Gado-Gado secara regulasi adalah milik negara tetapi tanah tersebut telah ditempati oleh masyarakat secara turun temurun dari zaman kolonial Belanda, sehingga tanah dan bangunan tidak memiliki izin bangunan. Namun, masyarakat lebih tertetik mengurus izin usaha karena pengurusannya yang cepat dan efisien tanpa memerlukan waktu lama. Kata Kunci : Rawan Bencana, Izin Usaha, Bukit Gado-Gado
Copyrights © 2026