Poster film merupakan artefak visual yang memuat lebih dari sekadar fungsi promosi; ia juga mengonstruksi dan merepresentasikan ideologi film, termasuk dalam membentuk citra dan makna perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana ideologi film tentang perempuan tercermin secara visual dalam poster film Indonesia periode 1990–2021. Lima film dipilih sebagai objek studi—Tjoet Nja’ Dhien (1988), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Marlina (2017), Penyalin Cahaya (2021), dan Yuni (2021) karena menampilkan perempuan sebagai tokoh utama yang menantang struktur budaya patriarkal. Analisis dilakukan melalui kerangka semiotika Charles Sanders Pierce yang membedakan makna pada level firstness, secondness, dan thirdness, serta dikombinasikan dengan pendekatan visual dalam desain (warna, tipografi, ekspresi tokoh, posisi tubuh, dan simbol visual). Penelitian ini tidak hanya mendekripsi isi visual, tetapi juga membedah bagaimana tanda-tanda visual mencerminkan atau justru bertentangan dengan ideologi naratif film. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara representasi visual pada poster dengan nilai-nilai kritis dalam narasi film, di mana ideologi patriarki sering kali tetap tersirat melalui estetika yang meminggirkan atau menormalkan subordinasi perempuan. Poster sebagai medium visual terbukti tidak netral, melainkan sarat akan kepentingan ideologis yang beroperasi melalui bentuk, gaya, dan strategi representasi.
Copyrights © 2026