Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, termasuk cara berpikir, berinteraksi, bekerja, dan membangun peradaban. Perkembangan pesat teknologi digital, kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), dan otomatisasi tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan industri, tetapi juga memengaruhi sistem nilai, identitas budaya, dan karakter masyarakat. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran strategis sebagai instrumen utama transformasi kebudayaan. Namun demikian, praktik pendidikan di Indonesia masih cenderung berorientasi pada pencapaian kognitif dan kompetensi teknis, sementara dimensi kebudayaan, nilai, dan karakter belum terintegrasi secara optimal. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan sebagai agen transformasi kebudayaan di era Revolusi Industri 4.0 dengan menggunakan pendekatan multidisipliner. Metode yang digunakan adalah kajian konseptual-analitis yang memadukan perspektif pendidikan, sosiologi, antropologi, sejarah, dan psikologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan memiliki fungsi strategis dalam proses enkulturasi, internalisasi nilai, serta pembentukan identitas budaya peserta didik di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Pendidikan yang terlepas dari kebudayaan berpotensi melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan kultural. Oleh karena itu, pendidikan perlu dikembangkan sebagai proses pembudayaan yang menyeimbangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan penguatan nilai-nilai budaya, Pancasila, dan kearifan lokal. Integrasi budaya dalam pendidikan diyakini mampu melahirkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan global sekaligus berakar kuat pada identitas nasional. Artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan yang
Copyrights © 2026