Polarisasi politik global dan eskalasi isu geopolitik telah meningkatkan risiko reputasi yang dihadapi brand internasional, sehingga strategi pemasaran global tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga menuntut pendekatan de-risking yang sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis temuan ilmiah terkait bagaimana brand internasional mengelola citra di tengah polarisasi politik dunia serta merumuskan kerangka konseptual strategi de-risking pemasaran global. Metode yang digunakan adalah literature review dengan penelusuran artikel ilmiah nasional dan internasional melalui Google Scholar, Garuda/SINTA, serta basis data internasional pada periode 2015–2026. Artikel yang terpilih dianalisis menggunakan content analysis dan thematic synthesis untuk mengidentifikasi pola strategi, mekanisme evaluasi publik, dan dampaknya terhadap citra merek. Hasil kajian menunjukkan tiga strategi utama yang digunakan brand internasional, yaitu brand activism/corporate political advocacy, socio-political silence (diam atau netral), serta akomodasi atau klarifikasi. Efektivitas masing-masing strategi sangat dipengaruhi oleh persepsi autentisitas, kesesuaian isu dengan identitas merek (brand–issue fit), keselarasan sikap konsumen dan perusahaan (stance congruence), serta reputasi awal brand. Ketidaksesuaian antara klaim dan tindakan berpotensi memicu backlash berupa boycott, switching, dan penurunan kepercayaan. Penelitian ini menegaskan pentingnya de-risking sebagai pendekatan terstruktur yang mengintegrasikan pemetaan isu, kesiapan internal, dan pengelolaan respons konsumen lintas pasar dalam menghadapi lingkungan pemasaran global yang semakin terpolarisasi dan tidak pasti.
Copyrights © 2026