Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap praktik etnomatematika yang terkandung dalam proses pembuatan pondasi rumah (ngijing) oleh tukang bangunan di Desa Gebang. Berangkat dari pandangan bahwa matematika merupakan praktik budaya yang hidup dalam aktivitas masyarakat, penelitian ini memfokuskan kajian pada penalaran matematis implisit yang digunakan dalam tahapan konstruksi pondasi rumah tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam tidak terstruktur, dan dokumentasi terhadap lima orang tukang bangunan yang berpengalaman. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan analisis domain, taksonomi, komponen, dan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ngijing terdiri atas beberapa tahapan utama, yaitu pembuatan sketsa, pengukuran dan penggalian tanah, pemasangan batu pondasi (kijing), serta pengecoran. Pada setiap tahapan tersebut ditemukan penerapan konsep matematika seperti skala, perbandingan, luas, jarak, bangun datar, bangun ruang, dan rasio material yang digunakan secara konsisten tanpa simbol matematika formal. Praktik tersebut mencerminkan penalaran matematis adaptif yang berkembang dari pengalaman kerja dan transmisi budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ngijing merupakan sistem etnomatematika yang bersifat prosedural dan kontekstual, bukan sekadar aktivitas teknis konstruksi. Temuan ini berkontribusi pada penguatan teori etnomatematika serta membuka peluang pemanfaatan praktik budaya lokal sebagai konteks pembelajaran matematika yang bermakna, khususnya pada materi pengukuran, perbandingan, dan geometri.
Copyrights © 2026