Penelitian ini mengkaji politik stigmatisasi pasca Peristiwa 1965 dan reproduksinya melalui pendidikan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada perubahan politik, tetapi juga melahirkan diskriminasi struktural yang memengaruhi akses dan pengalaman pendidikan kelompok minoritas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bentuk stigmatisasi sosial yang dilembagakan negara, dampaknya terhadap segmentasi pendidikan, serta mekanisme yang melanggengkannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis melalui studi pustaka terhadap buku, jurnal ilmiah, dokumen kebijakan, dan sumber sejarah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan diskriminatif Orde Baru, termasuk asimilasi paksa dan narasi sejarah resmi, menjadikan pendidikan sebagai instrumen reproduksi stigma. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa stigmatisasi pasca 1965 tidak berhenti pada ranah kebijakan, tetapi membentuk ketimpangan pendidikan jangka panjang yang masih dirasakan hingga masa pasca Reformasi.
Copyrights © 2026