Wujud kontingen adalah sesuatu yang keberadaannya bergantung pada faktor lain. Sifat-sifatnya menunjukkan bahwa ia memiliki “awal dan akhir”, serta tidak dapat berdiri sendiri. Dalam memahami konsep ini, akal memainkan peran penting untuk menganalisis dan memahami ketergantungan wujud kontingen pada sebab lain. Wujud yang sebenarnya adalah keberadaan yang mutlak dan tidak dapat diragukan. Yaitu Wajib al-Wujud yang pasti ada. Hakikat wujud adalah keberadaan yang tidak dapat dipisahkan dari Wajib al-Wujud, yaitu entitas yang keberadaannya mutlak dan tidak dapat tidak ada. Keyakinan tentang keberadaan Allah biasanya menekankan bahwa "Sifat-sifat Allah tidak dapat disamakan dengan sifat makhluk Allah memiliki sifat-sifat yang unik dan tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Sifat-sifat-Nya tidak memiliki keserupaan dengan sifat-sifat makhluk, karena Allah adalah Zat yang Maha Sempurna dan tidak ada yang menyerupai-Nya." Dalam keyakinan Islam, Allah memiliki 20 sifat wajib yang pasti di miliki-Nya, dan 20 Sifat mustahil menggambarkan kebalikannya. Sedangkan “Sifat-jaiz” artinya Tuhan melakukan sesuatu ataupun tidak melakukannya, dan itu tidak mempengaruhi kesempurnaan-Nya. Pemikiran Hamzah Fansuri tentang Wahdah al-Wujud menyatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya wujud nyata, sedangkan makhluk adalah pantulan atau manifestasi dari wujud Tuhan. Ini berarti Tuhan tidak bisa dipisahkan dari ciptaan-Nya, tidak ada dualisme antara Tuhan dan makhluk. Dalam filsafat, wujud terbagi dua, yaitu Wujud Tuhan (Wajib al-Wujud) wujud yang mutlak dan nyata. Dan Wujud makhluk (Wujud Mumkin) wujud yang bergantung dan tidak mutlak.
Copyrights © 2026