MODELING: Jurnal Program Studi PGMI
Vol. 12 No. 4 (2025): Desember

Review Buku  ‘Major Themes of the Quran’  oleh Fazlur Rahman dan Teori Double Movement

Purwanto, Purwanto (Unknown)



Article Info

Publish Date
23 Dec 2025

Abstract

Para mufasir terus mendialogkan teks al-Quran dengan problem sosial yang terus berkembang menjadi salah satu latar belakang munculnya tafsir kontemporer. Semangat reinterpretasi ini dibuktikan dengan munculnya beberapa pendekatan tafsir al-Quran mulai dari tafsir global (ijmali), tafsir analitik (tahlili), tafsir perbandingan (muqaran), hingga tafsir tematik (maudhu’i). Beberapa contoh mufasir kontemporer adalah Nasr Hamid Abu Zaid dengan semiotika al-Qur’annya, Muhammad Syahrur dengan teori  hudud-nya, dan Fazlur Rahman dengan metode sosio-historis dengan pendekatan hermeneutika gerakan ganda (double movement), dan sintesis logisnya (maudhu’i). Peneliti tertarik untuk membahas metodologi tafsir Fazlur Rahman dalam bukunya “Major Themes of The Quran” dengan alasan, metodologi yang digunakan dalam buku tersebut masih terkesan baru, walaupun terdapat kemiripan dengan tafsir tematik klasik. Hasil penelitian ini adalah: Pertama, Buku ‘Major Themes of The Quran’ memuat enam tema yang kesemuanya ditata secara sistematis. Keenam tema tersebut adalah tema tentang Tuhan, manusia sebagai individu, manusia sebagai anggota masyarakat, alam semesta, kenabian dan wahyu, eskatologi, setan dan kejahatan serta lahirnya masyarakat muslim. Pada akhir buku tersebut juga terdapat apendiks tentang situasi religius yang dihadapi oleh masyarakat muslim di mekkah, kaum ahli kitab, dan mengenai keanekaragamaman “agama-agama”. Dengan pendekatan tematik, Rahman berpendapat bahwa al-Quran hendaknya dibiarkan “berbicara” mengenai apa yang dikandungnya sehingga hal tersebut dapat mengurangi subjektifitas penafsir. Kedua, konsep hermeneutika Al-Qur’an yang dibangun oleh Fazlur Rahman merupakan pengembangan dari konsep Islam yang sudah ada sebelumnya, seperti asbâb an-nuzûl, Qiyâs, illat al-hukm, tafsîr sistematis , ‘Amm dan Khâshsh. Hanya saja, konsep-konsep ini oleh Fazlur Rahman diberi muatan makna yang baru, sehingga konsep tersebut memiliki makna yang lebih luas dan kontekstual. Ketiga, prinsip penafsiran  Fazlur Rahman adalah prinsip diferensiasi, prinsip holistik dan menolak atomisasi, prinsip kontekstualisasi penafsiran, prinsip sunnah nabi sebagai metode ijtihad, prinsip objektivitas penafsiran, prinsip deotonomisasi teks, dan prinsip sinonimitas. Keempat, tiga metode penafsiran yang ditawarkan Fazlur Rahman, yaitu sintesis-logis, sosio-historis, dengan pendekatan hermeneutika double movement (gerakan ganda). Sedangkan pada buku Major Themes of The Quran, digunakan metode Sintesis-Logis. Kelima, metode penafsiran gerakan ganda (double movement) berisi model penafsiran from the present situation to Quranic time, then back to the present. Bila gerakan pertama merupakan kerja ahli sejarah, maka gerakan yang kedua merupakan kerja ahli para saintis sosial, tetapi orientasi efektif dan rekayasa etis yang sebenarnya adalah kerja para ahli etika.

Copyrights © 2025