Jurnal Salvation
Vol. 6 No. 2 (2026): Januari 2026

Melawan Intoleransi di Indonesia: Studi Komparatif Lukas 10:25-37 dan Sila Pertama Pancasila dari Perspektif Kristen

Reynaldi Indi Joshua Christian (Unknown)
Makalao Sean Cornery Mikhael (Unknown)
Richelle Maqdalene Sayudha (Unknown)
Prita Patricia Harefa (Unknown)



Article Info

Publish Date
31 Jan 2026

Abstract

Abstract: The issue of intolerance remains a frequent problem in Indonesia, especially among communities with diverse religions and cultures. This article aims to discuss how Christians can play a role in combating intolerance by examining the story of the Good Samaritan in Luke 10:25–37 and the first principle of Pancasila, Belief in One God. Through Jesus' parable, we are taught that true love knows no boundaries of religion, ethnicity, or social status. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the values contained in Luke 10:25-37 are in line with the meaning of the first principle, which emphasises the recognition of the One God and respect for fellow believers. By looking at these shared values, this article affirms that the Christian faith is called to manifest God's love in concrete actions that reject intolerance and build a harmonious, just, and peaceful life together in Indonesia. The first principle of Pancasila and the parable of the Good Samaritan both reinforce the values of love and rejection of intolerance, but the first principle of Pancasila functions as a juridical-moral foundation of divine ethics in a pluralistic nation, while Luke 10:25–37 is rooted in a personal, relational, and sacrificial call to faith, so that the two complement each other in shaping a civilised communal life. Abstrak: Masalah intoleransi masih menjadi persoalan yang sering muncul di Indonesia, terutama di tengah masyarakat yang beragam agama dan budaya. Artikel ini bertujuan untuk membahas bagaimana umat Kristen dapat berperan dalam melawan sikap intoleransi dengan meninjau kisah Orang Samaria yang Baik Hati dalam Lukas 10:25–37 dan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Melalui perumpamaan Yesus, diajarkan bahwa kasih sejati tidak mengenal batas perbedaan agama, suku, atau status sosial. menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa nilai yang terkandung dalam Lukas 10:25-37 ini sejalan dengan makna sila pertama yang menekankan pengakuan akan Tuhan yang Esa dan penghormatan terhadap sesama umat beragama. Dengan melihat kesamaan nilai tersebut, artikel ini menegaskan bahwa iman Kristen dipanggil untuk mewujudkan kasih Allah secara nyata dalam tindakan yang menolak intoleransi serta membangun kehidupan bersama yang rukun, adil, dan damai di Indonesia. Sila Pertama Pancasila dan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati sama-sama meneguhkan nilai kasih dan penolakan terhadap intoleransi, namun dalam sila Pancaila pertama berfungsi sebagai landasan etika ketuhanan yang yuridis-moral dalam kehidupan berbangsa yang plural, sedangkan Lukas 10:25–37 berakar pada panggilan iman yang personal, relasional, dan berkorban, sehingga keduanya saling melengkapi dalam membentuk kehidupan bersama yang berkeadaban

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

salvation

Publisher

Subject

Religion Education

Description

Jurnal Salvation adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam ...