Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat global dan nasional, termasuk di Indonesia. Meskipun telah diterapkan berbagai program seperti strategi End TB 2030, prevalensi TB, khususnya TB paru, tetap tinggi. Di Kabupaten Paniai, Papua, angka kasus TB menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Tantangan besar terlihat pada tingginya jumlah pasien yang putus berobat dan hilang kontak, serta keterbatasan fasilitas layanan TB yang hanya tersedia di dua titik layanan, yakni RSUD Paniai dan Puskesmas Enarotali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program pencegahan dan penanganan TB di Kabupaten Paniai serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB di Kabupaten Paniai Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus analitik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Informan kunci terdiri dari petugas TB (programer), dokter, dan kepala puskesmas, sedangkan informan pendukung meliputi pasien TB dan anggota keluarga pasien. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahap reduksi, kategorisasi, interpretasi, hingga penarikan kesimpulan. Penelitian ini dapat memberikan gambaran mendalam mengenai pelaksanaan program TB di Kabupaten Paniai, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta merumuskan rekomendasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas program dan keberhasilan pengobatan TB, khususnya dalam aspek pemantauan pasien, aksesibilitas layanan, dan edukasi masyarakat. Secara umum, program pengendalian Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Paniai dapat dikatakan belum berjalan optimal. Hal ini terlihat dari masih tingginya angka keterlambatan diagnosis, rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, serta belum meratanya akses layanan TB di seluruh puskesmas.
Copyrights © 2026