Latar Belakang, Wilayah Malino, Kabupaten Gowa, merupakan daerah dataran tinggi yang rawan bencana hidrometeorologi. Kondisi lingkungan yang dingin meningkatkan risiko hipotermia pada korban bencana, yang dapat memperburuk kondisi trauma melalui mekanisme Trias Kematian. Namun, fokus penanganan pra-rumah sakit seringkali hanya pada trauma fisik, mengabaikan manajemen suhu tubuh. Tujuan, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan gambaran manajemen hipotermia yang dilakukan oleh tim penolong di fase pra-rumah sakit. Metode, Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 53 orang yang terdiri dari personel TRC, Tagana, dan tenaga kesehatan Puskesmas di Kecamatan Tinggimoncong. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Hasil, Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan kategori Cukup (52,8%). Dalam praktik lapangan, tindakan memindahkan korban ke tempat aman dilakukan oleh 94,3% responden, namun pelepasan pakaian basah hanya dilakukan oleh 60,4%. Penggunaan alat thermal blanket sangat rendah (28,3%) dikarenakan keterbatasan logistik. Kesimpulan, Manajemen hipotermia di Malino belum optimal, terutama pada aspek exposure (pelepasan pakaian basah) dan rewarming (penghangatan) akibat kurangnya alat spesifik. Diperlukan pengadaan thermal blanket dan pelatihan intensif bagi relawan di daerah dataran tinggi.
Copyrights © 2026