Pertanian berkelanjutan merepresentasikan lebih dari sekadar strategi teknis untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, namun juga refleksi mendalam atas relasi eksistensial manusia dengan alam semesta. Artikel ini menelaah dimensi filosofis dari pertanian berkelanjutan dengan mengintegrasikan etika lingkungan, filsafat ekologi dan nilai-nilai keadilan intergenerasional. Dengan mengacu pada pemikiran filsuf seperti Arne Naess, Aldo Leopold, dan Wendell Berry, artikel ini menegaskan bahwa keberlanjutan sejati mensyaratkan transformasi ontologis dan epistemologis: dari dominasi menjadi koeksistensi, dari eksploitasi menjadi kepengasuhan. Dalam menghadapi tantangan kontemporer krisis ekologi dan ketimpangan global seperti perubahan iklim, penyediaan pangan, an alienasi petani dari tanahnya, filsafat pertanian berkelanjutan menawarkan kerangka normatif dan etis yang mendalam untuk membangun masa depan yang adil dan selaras dengan tatanan ekologis.
Copyrights © 2025