Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang memerlukan terapi jangka panjang dengan efek samping yang minimal. Salah satu target terapi potensial adalah enzim α-glukosidase, yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa. Dalam studi ini, tujuh senyawa dari Erythroxylum laurifolium dievaluasi menggunakan pendekatan in silico untuk menilai potensinya sebagai inhibitor α-glukosidase. Hasil evaluasi menunjukan bahwa meskipun sebagian besar senyawa tidak memenuhi kriteria Lipinski’s Rule of Five, efektivitasnya tetap terjamin karena aksi lokal di lumen usus. Senyawa prosianidin B1 memiliki nilai energi bebas Gibbs (ΔG) sebesar –6,93 kkal/mol dengan konstanta inhibisi 8,30 µM, diikuti oleh prosianidin B2 dengan ΔG –5,74 kkal/mol dan konstanta inhibisi 61,90 µM. Afzelin, yang memenuhi tiga dari empat kriteria RO5, menunjukkan ΔG sebesar –5,14 kkal/mol dengan konstanta inhibisi 169,65 µM. Berdasarkan afinitas pengikatan dan potensi farmakologis, prosianidin B1, prosianidin B2, dan afzelin adalah kandidat kuat sebagai inhibitor α-glukosidase. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi efektivitas dan keamanannya melalui studi in vitro dan in vivo.
Copyrights © 2025