Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan bentuk tindak tutur imperatif serta strategi kesantunan yang digunakan dalam bahasa Jepang dan bahasa Melayu dialek Rokan Hulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kontrastif. Data penelitian berupa tuturan imperatif bentuk perintah yang diperoleh dari dialog film berbahasa Jepang dan film berbahasa Melayu dialek Rokan Hulu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan bentuk imperatif berdasarkan teori Makino dan Tsutsui serta Takashi untuk bahasa Jepang, dan teori Rahardi untuk bahasa Melayu, serta strategi kesantunan menurut Brown dan Levinson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Jepang ditemukan 112 tuturan imperatif yang terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu perintah tegas, perintah biasa, dan perintah halus, dengan variasi bentuk yang sangat beragam. Sementara itu, dalam bahasa Melayu Rokan Hulu ditemukan 127 tuturan imperatif yang terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu perintah tegas dan perintah halus, dengan dominasi kuat pada perintah tegas. Dari segi strategi kesantunan, kedua bahasa sama-sama menggunakan keempat strategi kesantunan, namun bahasa Jepang lebih dominan menggunakan strategi kesantunan positif serta lebih sering memanfaatkan strategi kesantunan negatif dan off record, sedangkan bahasa Melayu Rokan Hulu didominasi oleh strategi bald on record. Perbedaan ini mencerminkan karakter budaya komunikasi masing-masing, di mana bahasa Jepang menekankan hierarki dan kehati-hatian dalam bertutur, sedangkan bahasa Melayu Rokan Hulu lebih mengutamakan kejelasan dan kelugasan dalam penyampaian perintah.
Copyrights © 2026