The International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) dan laporan global dari VISION 2020 menunjukkan angka sekitar 19 juta anak mengalami kelainan refraksi, dengan 12 juta kasus diantaranya bisa diperbaiki dengan intervensi sederhana seperti kacamata atau lensa kontak. Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi pada anak-anak dapat menyebabkan ambliopia. Mendeteksi dan mengobati kondisi ini sejak dini sangat penting, karena sistem penglihatan anak masih dalam masa perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kelainan refraksi pada anak-anak sekolah dengan rentang usia 6-17 tahun melalui skrining serta pemberian kacamata gratis di Kota Samarinda. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan total sampel 336 orang anak. Berdasarkan hasil skrining didapatkan 325 anak (96,7%) memiliki kelainan refraksi. Kelainan refraksi terbanyak ditemukan pada anak perempuan (68,4%), dengan kelompok usia terbanyak rentang 14-17 tahun (67%). Mayoritas kelainan refraksi adalah astigmatisma (55,7%). Ambliopia didapatkan pada 122 anak (36,3%) dengan mayoritas penyebab ambliopia adalah kelainan refraksi jenis astigmatisma (78,7%).
Copyrights © 2026