Mikosis subkutan merupakan infeksi jamur yang terjadi akibat inokulasi jamur ke dalam jaringan dermis melalui trauma kulit, yang berpotensi menyebabkan infeksi sistemik, terutama pada individu dengan imunokompromais. Mikosis ini termasuk dalam kelompok mikosis profunda dan mencakup beberapa jenis, antara lain cutaneous sporotrichosis, chromoblastomycosis (jenis yang paling sering ditemukan), phaeohyphomycosis, mycetoma, dan basidiobolomycosis. Meskipun termasuk dalam sepuluh besar penyakit jamur yang paling umum di dunia, kasus mikosis subkutan sering kali tidak terdiagnosis secara tepat, terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas dan kurangnya kesadaran klinis terhadap penyakit ini. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk tinjauan pustaka dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai artikel ilmiah yang relevan guna memperoleh pemahaman yang komprehensif terkait aspek epidemiologi, manifestasi klinis, metode diagnostik, serta tatalaksana mikosis subkutan. Berdasarkan hasil analisis literatur, mikosis ini umumnya menyerang individu berusia 20–60 tahun, khususnya laki-laki yang bekerja di sektor pertanian atau yang sering terpapar lingkungan berjamur. Diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan penunjang seperti kultur jamur, histopatologi jaringan, dan teknik diagnostik molekuler. Penatalaksanaan utamanya adalah pemberian antijamur sistemik, yang sering dikombinasikan untuk mencegah kekambuhan. Di samping itu, beberapa inovasi dalam bidang diagnostik dan terapeutik terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Mengingat masih rendahnya pencatatan dan pelaporan kasus serta seringnya terjadi salah diagnosis, diperlukan peningkatan pemahaman klinis dan penelitian lanjutan agar mikosis subkutan dapat dikenali secara dini dan ditangani secara optimal.
Copyrights © 2026