Paradigma kesehatan modern seringkali terjebak pada reduksionisme biomedis yang memandang manusia semata-mata sebagai entitas biologis, menepikan dimensi spiritual yang justru fundamental. Dalam konteks ini, konsep kenabian (nubuwwah) kerap dianggap tidak relevan dengan sains kesehatan berbasis bukti (evidence-based). Penelitian ini bertujuan menantang pandangan tersebut dengan menganalisis peran epistemologi nubuwwah sebagai fondasi bagi kesehatan mental dan spiritual (spiritual well-being) yang merupakan bagian integral dari definisi kesehatan menurut WHO. Melalui studi literatur kritis, artikel ini menunjukkan bahwa: (1) Keterbatasan akal dan sains empiris menyisakan "ruang kosong" dalam pemaknaan penderitaan dan kematian, yang hanya bisa dijawab oleh wahyu; (2) Integrasi nilai-nilai nubuwwah menawarkan mekanisme koping (coping mechanism) yang efektif dalam menghadapi krisis kesehatan mental; dan (3) Distingsi tegas antara wahyu yang objektif dengan intuisi subjektif sangat krusial untuk mencegah praktik pengobatan pseudo-spiritual. Kesimpulan studi ini menegaskan bahwa nubuwwah bukan antitesis sains, melainkan elemen komplementer vital untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang utuh.
Copyrights © 2026