Riwayat Isrā’īliyyāt merupakan salah satu fenomena yang mewarnai perkembangan tafsir al-Qur’an klasik, khususnya dalam penafsiran ayat-ayat kisah. Sebagian riwayat tersebut diterima tanpa proses kritik sanad dan matan yang memadai, sehingga berpotensi menimbulkan penyimpangan pemahaman terhadap pesan al-Qur’an. Dalam kajian ulūm al-Qur’ān, fenomena ini dikenal dengan istilah ad-dakhīl fī at-tafsīr. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis salah satu bentuk dakhīl al-Isrā’īliyyāt dalam tafsir QS. Yusuf ayat 4, yaitu riwayat mengenai penamaan sebelas bintang dalam mimpi Nabi Yusuf عليه السلام. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan dengan menelaah kitab-kitab tafsir klasik dan karya ulama kritik hadis. Hasil kajian menunjukkan bahwa riwayat tersebut memiliki sanad yang lemah, bersumber dari tradisi Yahudi, serta tidak memiliki relevansi substansial terhadap pesan teologis dan moral ayat. Oleh karena itu, riwayat ini dapat dikategorikan sebagai dakhīl yang tidak layak dijadikan dasar penafsiran al-Qur’an.
Copyrights © 2026