Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi khalayak terhadap konten video monolog Gibran Rakabuming Raka yang berjudul “Generasi Muda, Bonus Demografi, dan Masa Depan Indonesia”. Fokus utama penelitian ini adalah mengeksplorasi keberagaman posisi pemaknaan khalayak dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi proses interpretasi tersebut. Dengan menggunakan teori resepsi encoding/decoding dari Stuart Hall, penelitian ini membedah bagaimana pesan media diterima, dinegosiasikan, atau ditolak oleh audiens dengan latar belakang yang berbeda. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil penelitian menunjukkan adanya keberagaman posisi resepsi yang terbagi ke dalam tiga kategori: dominant-hegemonic, di mana informan menerima sepenuhnya pesan sebagai optimisme masa depan; negotiated, di mana informan menerima inti pesan namun memberikan catatan kritis terkait realitas lapangan dan kebijakan pemerintah; serta oppositional, di mana informan menolak pesan karena dianggap sebagai pencitraan atau tidak selaras dengan pengalaman pribadi mereka. Faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan resepsi ini meliputi lingkungan sosial, pengetahuan mengenai isu, pengalaman pribadi, tingkat kepercayaan terhadap sumber, paparan media, serta nilai dan ideologi yang dianut oleh masing-masing individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa khalayak merupakan subjek aktif yang memproduksi makna secara mandiri berdasarkan konteks sosial dan kapasitas kognitif mereka.
Copyrights © 2026