Sampai saat ini di dalam gereja masih juga terdapat penatalayanan yang kurang efektif di mana hanya gembala yang mengambil alih semua aspek pelayanan, akibat kurangnya pemahaman pemimpin dalam mengkoordinasi penatalayanan dalam gereja. Kepemimpinan yang menekankan kekuasaan dengan memimpin secara otoriter, juga akan berdampak buruk pada sikap bawahan. Sayangnya hal ini belum dipahami dengan baik oleh gereja-gereja yang ada. Oleh karena itu penulis tergerak untuk meneliti penatalayanan berdasarkan Kisah Para Rasul 4-32-37. Metode dalan penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan naratif guna memahami teks dan konteks. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penatalayanan berdasarkan Kisah Para Rasul 4-32-37 menunjukkan adanya pembagian tugas antara pemimpin dan anggota jemaat lainnya. Pemimpin harus mampu melibatkan anggota jemaat dalam penatalayanan gereja yang baik dan efektif . Penatalayanan memiliki peranan yang penting dalam menentukan kualitas jemaat. Penatalayanan yang diatur dengan baik akan menolong pemimpin untuk focus dalam pelayanan firman dan kesaksian, dan juga mendorong anggota jemaat menolong persoalan yang dihadapi oleh anggota jemaat lainnya. Kisah Para Rasul 4-32-37 membutktikan bahwa penatalayanan yang baik membawa kesatuan hati dan jiwa serta menumbuhkan semangan kepedulian diantara jemaat, yang melahirkan jemaat yang sejahtera dan kuat.
Copyrights © 2021