Penelitian ini membahas tantangan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah berbasis pesantren, dengan fokus pada kesiapan guru, keterbatasan fasilitas, dan minimnya dukungan teknis dari pemerintah. Kurikulum Merdeka menekankan fleksibilitas pembelajaran berbasis proyek dan teknologi, yang sering kali bertentangan dengan pendekatan tradisional pesantren yang berpusat pada hafalan dan kajian kitab kuning. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di MA Nurul Jadid, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang prinsip Kurikulum Merdeka masih terbatas, menyebabkan ketergantungan pada metode pengajaran konvensional. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti perangkat teknologi dan ruang kelas interaktif menghambat penerapan metode pembelajaran berbasis proyek. Kurangnya pelatihan intensif dan panduan teknis dari pemerintah juga memperparah kesulitan dalam implementasi. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pelatihan guru, pengadaan fasilitas pendukung, serta kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memastikan implementasi Kurikulum Merdeka yang efektif tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisional pesantren.
Copyrights © 2025