Artikel ini mengeksplorasi ide-ide baru al-Dihlawi dalam studi Al-Qur’an untuk menelaah nilai reformasi pendidikannya. Dengan pendekatan historis dan metode analisis isi, tulisan ini menghasilkan bahwa, gagasan al-Dihlawi meliputi asbab al-nuzul al-juz’i dan al-haqiqi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan mikro dan makro. Selain itu, ia memiliki pandangan tentang naskh yang harus diposisikan sebagai sejarah, bukan sebagai konsensus ulama. Ia juga memiliki pandangan terkait isra’iliyat, ada dua sikap mengenai kisah-kisah isra’iliyat. Pertama, ia percaya bahwa referensi dari ahl al-kitab tidak diperlukan jika hadis Nabi cukup menjelaskan apa yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Kedua, jika rujukan semacam itu tidak dapat dihindari, maka rujukan tersebut harus digunakan semata-mata untuk mendapatkan kejelasan tentang masalah tersebut. Meskipun cara al-Dihlawi dalam melakukan gerakan reformasi cukup keras, namun kepekaan terhadap situasi dan kondisi sekitar, serta solusi perubahan dengan menawarkan teori-teori ilmiah merupakan nilai pendidikan yang patut dicontoh oleh generasi selanjutnya.
Copyrights © 2025