Kawasan Pasar Oro-Oro Dowo di Kota Malang menghadapi permasalahan kemacetan serius akibat volume kendaraan yang melampaui kapasitas jalan dan tingginya hambatan samping, dengan nilai Derajat Kejenuhan (DJ) pada Jalan Brigjen Slamet Riyadi mencapai lebih dari 0,8. Sebagai solusi, Pemerintah Kota Malang menerapkan kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) untuk menurunkan rasio volume terhadap kapasitas dan mendukung program Car Free Day (CFD). Namun, kebijakan ini berdampak pada penurunan jumlah pengunjung pasar hingga 30% akibat rute memutar yang tidak efisien dan peningkatan waktu tempuh. Berdasarkan hasil analisis pada empat titik tinjauan, yaitu Simpang Guntur, Simpang B.S. Riyadi, Simpang Buring, dan Simpang Merbabu, ditemukan bahwa titik kritis kemacetan terpusat pada Simpang B.S. Riyadi. Hasil analisis menggunakan metode PKJI 2023 menunjukkan bahwa pada jam puncak sore, simpang tersebut mengalami tundaan tertinggi mencapai lebih dari 200 detik/smp, yang mengindikasikan Tingkat Pelayanan (Level of Service) berada pada kategori F atau arus jenuh. Kondisi serupa juga divalidasi melalui pemodelan mikrosimulasi PTV Vissim yang menunjukkan nilai tundaan di atas 100 detik dengan identifikasi tingkat pelayanan F. Perbedaan signifikan tersebut terjadi karena PKJI 2023 menggunakan perhitungan statis berbasis rumus empiris rata-rata, sedangkan PTV Vissim menggunakan simulasi mikroskopis yang memodelkan interaksi antar kendaraan secara dinamis.
Copyrights © 2026