Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerajinan tangan berbasis sumber daya alam lokal menghadapi tantangan pemasaran yang kompleks, termasuk keterbatasan distribusi, persaingan produk sintetis, dan minimnya jangkauan promosi digital. PT Cici Art Craft, produsen kerajinan anyaman akar keladi air di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mengalami penurunan penjualan signifikan dari Rp13.500.000 pada Desember 2024 menjadi Rp8.750.000 pada Februari 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bauran pemasaran yang diterapkan dan merumuskan strategi pemasaran prioritas melalui pendekatan 4P, SWOT, dan QSPM. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 11 responden, meliputi pemilik usaha, tenaga kerja, konsumen, pemasok, Dinas UMKM, dan pesaing. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan Matriks IFE, EFE, SWOT, dan QSPM. Hasil analisis IFE menghasilkan skor 3,01 dan EFE sebesar 2,84, menempatkan perusahaan pada Kuadran I yang merekomendasikan strategi pertumbuhan agresif. Matriks SWOT menghasilkan tiga alternatif strategi SO yang dievaluasi melalui QSPM. Strategi "Mengoptimalkan promosi digital dan dukungan Dinas UMKM untuk memperluas pangsa pasar" terpilih sebagai prioritas utama dengan nilai Sum Total Attractiveness Score (STAS) tertinggi sebesar 7,54, diikuti perluasan jaringan ekspedisi dan kemitraan (7,32), serta pemanfaatan kualitas produk dan motif Dayak untuk pasar eco-friendly (7,12). Temuan ini mengimplikasikan bahwa digitalisasi promosi yang konsisten, didukung kolaborasi kelembagaan pemerintah dan penguatan identitas budaya lokal, merupakan kunci peningkatan daya saing UMKM kerajinan berbasis alam dalam menghadapi pasar yang semakin kompetitif.
Copyrights © 2026