Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dan guru dalam mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif di SDN Batok Bali serta mendeskripsikan bentuk kolaborasi yang terbentuk di tengah keterbatasan sumber daya, seperti ketiadaan Guru Pembimbing Khusus (GPK), kelas gemuk, dan minimalnya sarana pendukung. Penelitian ini menerapkan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Partisipan penelitian terdiri atas satu kepala sekolah dan enam guru yang ditentukan melalui teknik purposive sampling . Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-intrusif, serta analisis dokumen. Selanjutnya data dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang mencakup tahapan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi strategi inklusi dilakukan dengan kebijakan kelembagaan, kemitraan eksternal, peningkatan kompetensi guru, asesmen psikologis, pembelajaran adaptif, serta pembiasaan nilai-nilai positif seperti afirmasi pagi dan lagu anti-bullying. Kepala sekolah dan guru yang berkolaborasi secara intensif menjadi elemen utama dalam keberhasilan pelaksanaan pendidikan inklusif, yang membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya tidak menjadi hambatan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif, adil, dan bebas diskriminasi.
Copyrights © 2026