Di Indonesia, perusahaan manufaktur merupakan salah satu jenis usaha yang berperan penting dalam perekonomian dengan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai jual. Pandemi Covid-19 yang dimulai pada Maret 2020 memberikan dampak besar pada sektor ini, ditandai dengan inflasi rendah (1,23%), suku bunga 4,25%, dan nilai tukar Rp14.105/USD, serta GDP menurun hingga -2,07% akibat turunnya konsumsi dan investasi. Pada 2021, ekonomi mulai pulih dengan peningkatan konsumsi yang mendorong inflasi (1,07%), penurunan suku bunga menjadi 3,5%, nilai tukar relatif stabil di Rp14.269/USD, dan GDP naik menjadi 3,69%. Tahun 2022 mencatat lonjakan inflasi hingga 3,19% akibat peningkatan permintaan dan harga pangan global, suku bunga dinaikkan ke 4%, nilai tukar melemah ke Rp15.731/USD, dan GDP meningkat ke 5,31%. Di tahun 2023, inflasi masih tinggi di 2,61% karena faktor global dan domestik, suku bunga dinaikkan ke 5,81%, nilai tukar tetap tinggi di Rp15.416/USD, namun GDP tetap stabil di 5,05%. Studi ini mencakup seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2020 hingga 2023, dengan total 44 entitas sebagai populasi. Pendekatan pengambilan sampel yang digunakan adalah pengambilan sampel yang disengaja, yang memasukkan kriteria tertentu dalam proses pemilihannya. Hasil studi menunjukkan adanya pengaruh parsial yang signifikan antara Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga, dan Nilai Tukar Mata Uang terhadap Nilai Perusahaan, sementara Produk Domestik Bruto tidak menunjukkan pengaruh tersebut. Secara kolektif, Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga, dan Nilai Tukar Mata Uang memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan
Copyrights © 2025