Pada pembedahan tumor intramedullar tulang belakang, anestesi seimbang menjadi salah satu indikator kelancaran operasi. Salah satu tantangan adalah dalam pemilihan obat obatan seperti pelumpuh otot ketika dihadapkan dengan pasien disfungsi hati dan komorbid asma. Rencana anestesi harus menjamin hemodinamik serta ventilasi yang stabil dalam posisi pronasi sambil menghindari risiko terkait obat. Kami melaporkan perempuan usia 30 tahun yang direncanakan menjalani stabilisasi posterior dan pengangkatan tumor intramedular dengan asma intermiten, HBsAg reaktif disertai peningkatan enzym transaminase, ventrikel ekstrasistole dengan klasifikasi ASA III. Strategi anestesi memilih rokuronium dibanding atrakurium untuk menghindari bronkospasme yang dimediasi pelepasan histamin, dan pasien dipersiapkan ke ruangan ICU post operasi karena kecenderungan pemanjangan blok akibat eliminasi hepatobilier. Pasien diberikan analgetik remifentanil dan Induksi menggunakan propofol. Intubasi difasilitasi dengan rokuronium dengan dosis 1mg/kgbb, dan dilanjutkan pemeliharaan mengombinasikan propofol dengan infus remifentanil berkesinambungan dan sevofluran. Pasien juga diberikan premedikasi asam traneksamat dengan dosis loading 30 mg per kilogram berat badan. Tekanan arteri rata rata dipertahankan pada kisaran 70 hingga 75 mmHg untuk menunjang perfusi medula spinalis, dan perkiraan kehilangan darah sekitar 300 mL. Kasus ini menegaskan pendekatan terintegrasi yang berbasis bukti di mana penghindaran pelepasan histamin, penggunaan analgesia yang eleminasinya tidak bergantung organ, dan teknik konservasi darah yang proaktif bersama sama menyediakan jalur praktis menuju perawatan perioperatif yang aman pada komorbiditas yang kompleks.
Copyrights © 2025