Burnout merupakan keadaan kelelahan baik secara fisik, mental serta emosional. Tuntutan terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas perlu disikapi dengan peningkatan dari kualitas sumber daya manusia kesehatannya. Sumber daya manusia kesehatan yang mengalami burnout akan berdampak pada kinerja sehingga menurunkan kualitas pelayanan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan faktor-faktor berupa usia, jenis kelamin, masa kerja, lama pendidikan, jenis pekerjaan, kepuasan kerja, kepuasan gaji serta gaya kepemimpinan terhadap burnout. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi sebanyak 217 responden dengan sampel yang diperoleh sebanyak 165 responden. Instrumen penelitian menggunakan Maslach Burnout Inventory (MBI), Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ), Pay Satisfaction Questionnaire (PSQ) dan Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) dengan alih bahasa menggunakan metode back translation. Analisis data menggunakan uji regresi logistik berganda. Hasil penelitian didapatkan bahwa 48.8% pekerja mengalami burnout derajat tinggi dan 51.2% mengalami burnout derajat rendah. Adapun faktor usia kurang dari 30 Tahun (59.3%), jenis kelamin laki-laki (47.9%), masa kerja lebih besar 2 tahun (47.1%), lama pendidikan lebih besar 15 tahun (46.5%), tenaga kesehatan (57.8%), kepuasan kerja tinggi (55.8%), kepuasan gaji tinggi (58.5%) dan gaya kepemimpinan efektif (59.5%) lebih tinggi mengalami burnout. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa terdapat dua variabel yang paling berpengaruh terhadap burnout, yaitu usia lebih dari 30 tahun (p sama dengan 0.011, OR sama dengan 0.406) dan gaya kepemimpinan efektif (p sama dengan 0.031, OR sama dengan 0.400). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa faktor usia lebih dari 30 tahun dan gaya kepemimpinan efektif menjadi faktor protektif terjadinya burnout. Rumah sakit disarankan dapat mengimplementasikan program manajemen stres dan keseimbangan kerja-hidup serta memberikan pelatihan kepemimpinan yang efektif sehingga dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan mengurangi terjadinya burnout.
Copyrights © 2026