Penelitian ini membahas konsep pendidikan Islam dalam perspektif dua tokoh utama, Imam Al-Ghazali sebagai representasi ulama klasik dan Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai ulama kontemporer, dengan fokus pada perbedaan dan kesinambungan pemikiran keduanya mengenai tujuan pendidikan, peran ilmu, dan pembentukan karakter manusia. Isu ini penting karena pendidikan Islam modern kerap terpisah antara dimensi spiritual dan rasional, sehingga diperlukan pemahaman integratif yang mampu memadukan keduanya secara utuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yang bersumber dari karya-karya utama kedua tokoh seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din dan Ayyuha al-Walad karya Al-Ghazali, serta The Concept of Education in Islam dan Islam and Secularism karya Al-Attas. Analisis dilakukan menggunakan analisis isi (content analysis) dengan pendekatan hermeneutik dan filosofis untuk memahami makna konseptual dan konteks historis pemikiran kedua tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ghazali menekankan pendidikan sebagai sarana penyucian jiwa dan pembentukan akhlak menuju kesempurnaan insan, sedangkan Al-Attas menekankan pendidikan sebagai proses penanaman adab (ta’dib) yang menempatkan manusia dan ilmu pada posisi yang benar dalam tatanan wujud. Keduanya sepakat bahwa integrasi antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas merupakan inti pendidikan Islam, meskipun berangkat dari landasan epistemologis yang berbeda Al-Ghazali bersifat sufistik, sementara Al-Attas filosofis dan sistematis. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan Islam ideal adalah pendidikan yang mengintegrasikan aspek spiritual dan intelektual secara harmonis, menjadikan adab dan akhlak sebagai dasar pembentukan insan kamil, serta memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan paradigma pendidikan Islam yang holistik, kontekstual, dan berakar pada nilai-nilai Islam klasik.
Copyrights © 2026