Buku cerita berperan penting bagi perkembangan anak, karena anak dapat memperoleh beragam pengetahuan serta perspektif dalam membangun persepsi mereka tentang diri dan dunia di sekelilingnya. Selain itu, cerita dan dongeng menjadi medium yang signifikan bagi anak untuk belajar tentang nilai-nilai dan kepercayaan dalam budaya melalui pesan yang terkandung di dalamnya, termasuk pesan-pesan yang terungkap melalui representasi gender. Namun, bahan bacaan anak ini tidak jarang mencerminkan bias gender. Masih banyaknya cerita anak yang meneguhkan stereotip gender berbasis ideologi patriarki membatasi kebebasan anak dalam mengekspresikan diri, sehingga menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan. Melalui metode kualitatif deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi gender dalam kumpulan bahan bacaan literasi anak yang diterbitkan oleh Badan Bahasa Kemendikbudristek, sekaligus memberikan rekomendasi tentang perlunya pengembangan bahan bacaan bagi anak oleh pemerintah yang tidak hanya bermanfaat untuk menumbuhkembangkan kemampuan literasi dasar anak, namun juga bacaan yang kondusif bagi pengembangan kepribadian anak demi terwujudnya kesetaraan gender di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi gender tokoh-tokoh anak di dalam kumpulan bahan bacaan anak ini menunjukkan potensi konstruksi gender yang tidak berorientasi pada gender normatif. Namun di sisi lain, identitas dan peran gender tradisional yang memproyeksikan praktik bias gender tetap terlihat dan berjejak melalui penggambaran tokoh-tokoh dewasanya.
Copyrights © 2025