PT. Ravana Jaya sebagai perusahaan fabrikasi ducting masih menghadapi tingkat defect yang berdampak pada penurunan kapabilitas proses dan potensi peningkatan biaya kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis defect dominan, mengukur kapabilitas proses menggunakan metode Six Sigma, menentukan prioritas risiko kegagalan melalui FMEA dan Fuzzy FMEA, serta merumuskan strategi perbaikan berbasis risiko. Penelitian dilakukan pada periode Mei–Juni 2025 dengan pendekatan DMAIC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defect dominan terjadi pada proses welding (61 cacat), diikuti oleh grinding (36 cacat) dan marking (28 cacat). Nilai rata-rata level sigma berturut-turut sebesar 3,15; 3,41; dan 3,52, yang mengindikasikan bahwa proses masih berada pada level 3σ dan belum memenuhi standar 6σ. Analisis FMEA mengidentifikasi kegagalan las tidak merata dan porosity sebagai risiko tertinggi, sedangkan pendekatan Fuzzy FMEA menghasilkan nilai FRPN sebesar 959 pada mode kegagalan yang sama sehingga menjadi prioritas utama perbaikan. Integrasi Six Sigma dan Fuzzy FMEA dalam penelitian ini memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam mengukur kapabilitas proses sekaligus menentukan prioritas risiko secara lebih diskriminatif dibandingkan dengan FMEA konvensional. Implementasi rekomendasi yang diusulkan berpotensi meningkatkan stabilitas proses, menurunkan defect, dan memperkuat sistem pengendalian kualitas secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026