Pendanaan perubahan iklim di Indonesia menghadapi kesenjangan pembiayaan yang signifikan, di mana anggaran negara tidak mampu menanggung beban target Net Zero Emission secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekosistem obligasi hijau (green bond) dan sukuk hijau sebagai instrumen pembiayaan alternatif, dengan fokus pada tantangan struktural dan peluang pasar. Menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan dan sintesis data komparatif ASEAN, penelitian ini menemukan adanya paradoks kinerja pasar. Penerbitan instrumen negara (sovereign) tumbuh pesat didorong oleh legitimasi regulasi, namun pasar korporasi mengalami stagnasi akibat tingginya biaya transaksi dan asimetri informasi (agency costs). Temuan juga mengungkap besarnya potensi investor ritel domestik yang belum tergarap optimal. Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa regulasi yang ada saat ini masih bersifat administratif. Diperlukan reformasi kebijakan berupa insentif fiskal konkret dan subsidi biaya sertifikasi untuk mendorong partisipasi sektor swasta, sehingga tercipta ekosistem keuangan berkelanjutan yang inklusif dan tidak hanya bergantung pada inisiatif pemerintah.
Copyrights © 2025