Pengalaman ketidakadilan yang dialami perempuan penyandang bisu (tuna wicara) perlu didengarkan. Pengalaman ini perlu disertai dengan analisis, refleksi teologis, dan aksi pastoral. Ini dilakukan guna mencapai keadilan gender. Artikel ini membahas usulan pendampingan pastoral dalam perspektif feminis terhadap perempuan penyandang bisu sejak lahir. Artikel ini ditulis menggunakan metode penelitian pustaka dan wawancara pastoral. Hasil penelitian ini memperkuat perlunya pendampingan pastoral dalam perspektif feminis dilakukan bagi mereka dan bisa diperluas hingga komunitas iman dan masyarakat. Bahkan, kekhasan teologi disabilitas perlu dielaborasikan agar semakin mempertajamnya.
Copyrights © 2025